- Prahara Sadap WA di Sekupang Batam, Istri Mengaku Babak Belur Dianiaya Suami
- Upaya Rutan Batam Wujudkan Lingkungan Pemasyarakatan Sehat lewat Tes VCT
- Cegah Sajam dan Senpi Ilegal, Satgas Yonif 136/TS Gelar Sweeping Humanis di Puncak Jaya
- Turun ke Waduk Nongsa, Amsakar Achmad Minta Gangguan Air di Batam Segera Tuntas
- Dankodaeral IV Pimpin Peringatan HUT ke-81 TNI di Batam, Tekankan Pengabdian PRIMA
- Batam Krisis Air Baku Imbas El Nino Ekstrem, BP Batam Kebut Interkoneksi Pipa Duriangkang
- Gaya Hidup Bebas Dompet, CIMB Niaga Rilis OCTO untuk Pejuang Mimpi
- PajamASRun 2026 Segera Digelar, Hadirkan Lari Unik Berkostum Piyama
- Dari Pencuci Piring hingga GM: Perjalanan Ivan Bakara Nakhodai Properti Swiss-Belhotel Batam
- Sempat Kabur ke Bekasi, Pelaku Penggelapan Uang Kios Pasar BTC Bengkong Akhirnya Tumbang
Bukan Lagi Tatung, Batam Usung Tradisi Khitong pada Parade Budaya Nusantara 2026 di Tanah Melayu

Keterangan Gambar : Peserta pawai tatung dari tradisi di Singkawang, Kalimantan Barat melakukan aktraksi saat mengikuti perayaan Parade Budaya Nusantara tahun 2022, Sabtu (8/2/2020). /1st
KORANBATAM.COM - Kekayaan ragam budaya kembali menjadi daya pikat utama sektor pariwisata Kota Batam. Semangat inklusivitas tersebut diwujudkan melalui perhelatan Pawai Khitong dan Budaya Nusantara Batam-Kepri 2026, sebuah ajang akulturasi yang mempertemukan tradisi Tionghoa dengan deretan kesenian lintas daerah di Indonesia.
Agenda tahunan yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (27/9/2026) mendatang ini dirancang tidak sekadar sebagai pawai jalanan, melainkan panggung terbuka bagi masyarakat dan wisatawan untuk menyaksikan keberagaman dalam satu arena perayaan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, menegaskan bahwa perhelatan seperti Batam Khitong Fest memiliki nilai strategis. Selain menjaga simpul tradisi, event ini menjadi penanda bahwa Batam adalah daerah yang terbuka dan ramah terhadap kemajemukan.
“Batam memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, berbilang bangsa. Ketika berbagai komunitas tampil bersama dalam satu kegiatan, ini menjadi daya tarik luar biasa tidak hanya bagi warga lokal, tetapi juga wisatawan,” ujar Ardiwinata dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).
Ardiwinata menambahkan, pengembangan industri pariwisata modern tidak lagi berfokus tunggal pada destinasi fisik. Atraksi seni pertunjukan dan interaksi budaya masyarakat kini menjadi elemen krusial yang memberikan pengalaman unik bagi para pelancong.
Rebranding Identitas: Mengapa “Khitong”, Bukan “Tatung”?
Rangkaian acara akan dimulai pukul 14.30 hingga 22.30 WIB. Rute pawai mengambil titik awal dari kawasan depan Cardinal Lucky Star Hotel dan bergerak menyusuri koridor ekonomi kota menuju kawasan Martabak Har atau sekitar Sarijaya Hotel.
Sebanyak 60 peserta Khitong dari dalam dan luar negeri dipastikan ambil bagian. Aksi mereka akan disandingkan dengan 10 kelompok seni Nusantara yang memboyong kebudayaan Melayu, Minang, Dayak, Reog Ponorogo, pencak silat, hingga ragam tari dari Nusa Tenggara dan kawasan Indonesia timur.
Ketua Pelaksana, Susanto Theodolite, menjelaskan bahwa konsep kolaboratif ini sengaja dirancang untuk memperluas keterlibatan publik sekaligus menegaskan pesan persatuan.
Menariknya, penyelenggaraan tahun ini secara resmi mengadopsi istilah Khitong menggantikan penyebutan Tatung yang digunakan pada edisi terdahulu. Menurut Susanto, pergeseran istilah ini merupakan langkah strategis untuk membangun identitas budaya Tionghoa yang khas dan berakar di Batam serta Kepulauan Riau.
“Kalau kita bicara Tatung, ingatan publik langsung tertuju pada Singkawang, Kalimantan Barat. Lebih bijak jika kita membentuk identitas sendiri. Begitu orang mendengar kata Khitong, mereka akan langsung teringat Batam,” tegas Susanto.
Menuju Agenda Nasional dan Magnet Wisman
Pawai Khitong sendiri bukan hal baru bagi publik Batam. Sekretaris Pelaksana, Edy, mengungkapkan bahwa edisi 2026 ini merupakan pelaksanaan ketiga setelah sukses digelar pada 2022 dan 2024.
Guna menjaga nilai historisnya, prosesi pelepasan peserta akan dimulai dari dua rumah ibadah bersejarah, yakni Vihara Cipta Dharma di Sungai Panas dan Vihara Pekong, sebelum nantinya menyatu di titik kumpul utama pawai.
Semangat kebhinekaan tidak berhenti di jalanan. Pada malam harinya, kemeriahan berlanjut melalui panggung Mooncake Festival (Festival Kue Bulan) berkonsep Nusantara, lengkap dengan sajian bazar kuliner, hiburan artis, dan pertunjukan kembang api.
Panitia penyelenggara bersama Disbudpar Kota Batam optimistis acara ini mampu menyedot perhatian wisatawan mancanegara (wisman), khususnya dari Singapura dan Malaysia. Pada edisi sebelumnya, gelombang pengunjung hingga kreator konten dari negara tetangga turut mempublikasikan kemeriahan acara ini ke mancanegara.
“Kami berharap kegiatan ini terus menguat, rutin digelar, dan kelak mampu menembus jajaran kalender pariwisata nasional,” tutup Susanto.
(iam /Redaksi KoranBatam)
▴-▴
▴JNE BATAM▴
▴-▴



















































































