- Prahara Sadap WA di Sekupang Batam, Istri Mengaku Babak Belur Dianiaya Suami
- Upaya Rutan Batam Wujudkan Lingkungan Pemasyarakatan Sehat lewat Tes VCT
- Cegah Sajam dan Senpi Ilegal, Satgas Yonif 136/TS Gelar Sweeping Humanis di Puncak Jaya
- Turun ke Waduk Nongsa, Amsakar Achmad Minta Gangguan Air di Batam Segera Tuntas
- Dankodaeral IV Pimpin Peringatan HUT ke-81 TNI di Batam, Tekankan Pengabdian PRIMA
- Batam Krisis Air Baku Imbas El Nino Ekstrem, BP Batam Kebut Interkoneksi Pipa Duriangkang
- Gaya Hidup Bebas Dompet, CIMB Niaga Rilis OCTO untuk Pejuang Mimpi
- PajamASRun 2026 Segera Digelar, Hadirkan Lari Unik Berkostum Piyama
- Dari Pencuci Piring hingga GM: Perjalanan Ivan Bakara Nakhodai Properti Swiss-Belhotel Batam
- Sempat Kabur ke Bekasi, Pelaku Penggelapan Uang Kios Pasar BTC Bengkong Akhirnya Tumbang
Cakupan JKN Tembus 98 Persen, BPJS Kesehatan Soroti Mutu Faskes dan Luncurkan Wajah Baru Petugas SATU

Keterangan Gambar : Pegawai BPJS Kesehatan saat menerima sejumlah penghargaan, belum lama ini. /arsip BPJSKes Batam
KORANBATAM.COM - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan resmi menggeser paradigma pelayanan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tidak lagi hanya mengejar kuantitas atau jumlah kunjungan berobat, BPJS Kesehatan kini berfokus pada kualitas dan manfaat nyata kesehatan yang dirasakan langsung oleh masyarakat (Value-Based Care).
Langkah strategis ini ditegaskan dalam Pertemuan Nasional Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan 2026 yang berlangsung di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menyampaikan bahwa per 1 September 2026, cakupan kepesertaan JKN telah menyentuh angka 284,3 juta jiwa atau setara lebih dari 98,6 persen total populasi Indonesia. Angka tersebut didukung oleh kemitraan masif dengan 23.816 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), 3.221 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL), serta 7.180 sarana penunjang di seluruh pelosok negeri.
“Tugas kita bukan sekadar memastikan masyarakat terdaftar, tetapi juga menjamin bahwa saat mereka membutuhkan pelayanan kesehatan, layanan yang diterima itu bermutu dan mereka terlindungi dari risiko finansial,” tegas Pujo di hadapan para pemangku kepentingan.
Ia menambahkan, sepanjang periode 2014 hingga 2025, BPJS Kesehatan telah mengucurkan dana pelayanan kesehatan lebih dari Rp1.279,8 triliun. Besar modal sosial dan finansial ini dinilai harus sebanding dengan efektivitas pengobatan masyarakat, khususnya bagi penderita penyakit berbiaya mahal (katastropik) dan berjangka panjang.
Inovasi Layanan: 'Wajah Baru' BPJS SATU dan Integrasi Asuransi Swasta
Untuk meningkatkan pengalaman langsung pasien saat berobat, BPJS Kesehatan memperkenalkan wajah baru Petugas BPJS SATU (BPJS Siap Membantu). Petugas ini ditempatkan di faskes untuk mempermudah alur informasi, pengaduan, dan pendampingan pasien secara langsung di lapangan.
Dari sisi pembiayaan, BPJS Kesehatan juga memperkuat sinergi dengan sektor swasta melalui skema Koordinasi Antar Penyelenggara Jaminan (KAPJ) bersama Asuransi Kesehatan Tambahan (AKT).
Melalui skema ini, peserta JKN yang memiliki asuransi swasta dapat menikmati fasilitas kenaikan kelas perawatan secara lebih mudah dan transparan. Sistem tagihan dirancang berbasis satu pintu, di mana selisih biaya ditanggung bersama sesuai porsi koordinasi, sehingga mencegah beban biaya tak terduga (out-of-pocket) bagi pasien.
Dukungan Pemerintah dan Jaminan Akuntabilitas
Langkah transformasi mutu ini mendapat apresiasi penuh dari pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), menekankan bahwa JKN adalah “gotong-royong raksasa” yang wajib dijaga bersama dari risiko kemiskinan akibat biaya berobat.
“Pemerintah berkomitmen pada regulasi dan pembiayaan, faskes menjaga standar medis, dan peserta memenuhi kewajiban. Kita ingin memastikan tidak ada lagi masyarakat yang takut jatuh miskin karena sakit,” tutur Cak Imin.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal (Dirjen) Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menyatakan bahwa penguatan fasilitas kesehatan mulai dari ketersediaan obat, fasilitas penunjang, hingga kapasitas SDM merupakan fondasi mutlak transformasi kesehatan nasional. Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Stevanus Adrianto Passat, turut menegaskan komitmennya dalam mengawasi tata kelola anggaran agar tetap transparan dan akuntabel.
Apresiasi Faskes Terbaik: Seva Paramahita Award 2026
Sebagai bentuk dorongan inovasi, BPJS Kesehatan menganugerahkan Seva Paramahita Award 2026 kepada fasilitas kesehatan yang menunjukkan komitmen mutu pelayanan terbaik. Faskes-faskes ini diharapkan menjadi percontohan (role model) dalam transparansi dan akuntabilitas layanan JKN.
Daftar Peraih Juara 1 Faskes Berkomitmen Tingkat Nasional 2026:
• Puskesmas: Puskesmas Umbulsari (Kab. Jember)
• Dokter Mandiri (TPMD): dr. Efri Yeni (Kab. Padang Pariaman)
• Dokter Gigi Mandiri (TPMDG): drg. Fitri Eka Rahmafuri (Kab. Jember)
• Klinik Pratama: Klinik Pratama Ganesha Bali (Kab. Buleleng)
• Klinik Utama: Klinik Utama Citra Mulia
• Rumah Sakit Kelas A: RSUD Dr. Soetomo (Kota Surabaya)
• Rumah Sakit Kelas B: RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu (Kab. Bangkalan)
• Rumah Sakit Kelas C: RS Mawaddah Medika (Kab. Mojokerto)
• Rumah Sakit Kelas D: RS Hasyim Asy'ari (Kab. Jombang)
• Rumah Sakit Khusus: RSIA Putri (Kota Surabaya)
Selain kategori utama, penghargaan khusus juga diberikan kepada faskes di wilayah terpencil dan kriteria khusus (DBTFMS), termasuk kepada RS Kapal Dr. Lie Dharmawan II dan RS Kapal Ksatria Airlangga atas pengabdian medis di wilayah perairan dan kepulauan Indonesia.
(Redaksi KoranBatam)
▴-▴
▴JNE BATAM▴
▴-▴



















































































