- Prahara Sadap WA di Sekupang Batam, Istri Mengaku Babak Belur Dianiaya Suami
- Upaya Rutan Batam Wujudkan Lingkungan Pemasyarakatan Sehat lewat Tes VCT
- Cegah Sajam dan Senpi Ilegal, Satgas Yonif 136/TS Gelar Sweeping Humanis di Puncak Jaya
- Turun ke Waduk Nongsa, Amsakar Achmad Minta Gangguan Air di Batam Segera Tuntas
- Dankodaeral IV Pimpin Peringatan HUT ke-81 TNI di Batam, Tekankan Pengabdian PRIMA
- Batam Krisis Air Baku Imbas El Nino Ekstrem, BP Batam Kebut Interkoneksi Pipa Duriangkang
- Gaya Hidup Bebas Dompet, CIMB Niaga Rilis OCTO untuk Pejuang Mimpi
- PajamASRun 2026 Segera Digelar, Hadirkan Lari Unik Berkostum Piyama
- Dari Pencuci Piring hingga GM: Perjalanan Ivan Bakara Nakhodai Properti Swiss-Belhotel Batam
- Sempat Kabur ke Bekasi, Pelaku Penggelapan Uang Kios Pasar BTC Bengkong Akhirnya Tumbang
Pawai Khitong 2026: Panggung Harmoni Budaya Tionghoa dan Nusantara Pemikat Wisatawan di Batam

Keterangan Gambar : Peserta Khitong Pawai Khitong dan Budaya Nusantara Batam-Kepri 2026 melakukan atraksi wisata di kawasan Cardinal Lucky Star Hotel, Nagoya, Batam, Kepulauan Riau, Minggu (27/9/2026). /arsip Disbudpar Batam
KORANBATAM.COM - Gemuruh bunyi petasan dan tabuhan drums di kawasan Cardinal Lucky Star Hotel menjadi penanda dibukanya Pawai Khitong dan Budaya Nusantara Batam-Kepri 2026, Minggu (27/9/2026). Ribuan pasang mata tumpah ruah di sepanjang rute menuju kawasan Martabak Har, menyaksikan perpaduan harmonis antara tradisi Tionghoa dan kekayaan seni budaya Nusantara.
Kegiatan yang diawali dengan ritual sembahyang Thi Kong sejak pagi hari ini memberangkatkan rombongan dari Vihara Cipta Dharma (VCD) dan Vihara Budhi Bhakti (VBB). Sebanyak 68 peserta Khitong, baik dari dalam maupun luar negeri tampil atraktif mengiringi pergerakan parade yang dipimpin oleh tarian naga dan barongsai.
Uniknya, pawai kali ini tak sekadar menyoal ritual keagamaan atau tradisi lokal Tionghoa. Sepanjang rute pawai, masyarakat disuguhi ragam seni pertunjukan daerah, mulai dari tarian Melayu, silat, Reog Ponorogo, kesenian Dayak, musik khas Padang hingga irama kebudayaan Indonesia Timur.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, menegaskan bahwa, perhelatan ini menjadi cermin nyata inklusivitas Kota Batam sebagai ruang terbuka bagi seluruh etnis dan komunitas budaya.
“Batam adalah kota yang sangat beragam. Berbagai budaya hidup berdampingan dan dapat ditampilkan dalam satu ruang yang sama. Keberagaman ini adalah kekuatan kita, di mana masyarakat maupun wisatawan bisa menyaksikan langsung indahnya toleransi dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ardiwinata kepada KoranBatam.
Lebih lanjut, Ardiwinata menilai kemasan acara ini berhasil menaikkan kelas tradisi lokal menjadi atraksi wisata berdaya saing global. Mengingat posisi strategis Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, agenda semacam ini berpotensi besar menjadi magnet pemikat wisatawan mancanegara.
“Budaya bukan hanya tentang menjaga tradisi, tetapi bagaimana kita mengemasnya menjadi atraksi yang menarik. Kita ingin wisatawan datang ke Batam bukan cuma menikmati destinasi alam atau belanja, tapi juga kekayaan budaya masyarakatnya,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Ketua Magabutri Wilayah Kepri, Susanto Theodolite, menjelaskan bahwa, pembauran konsep ini disengaja untuk mempertegas bahwa kebudayaan Tionghoa telah melebur dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kebudayaan Indonesia.
Pawai Khitong 2026 ini sekaligus menjadi puncak rangkaian acara Batam Kue Bulan Fest yang sebelumnya telah sukses dihelat di Golden Prawn 933, Bengkong Laut, Bengkong, pada Sabtu (26/9/2026) malam.
Ajang tahunan ini turut dihadiri sejumlah pejabat lintas instansi dan tokoh agama lintas iman. Di antaranya Wakil Gubernur (Wagub) Kepri Nyanyang Haris Pratamura, Wali Kota Batam Amsakar Achmad, Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra, Kadispar Kepri Hasan, serta Ketua Umum Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam YM. H. Raja Muhammad Amin.
Hadir pula Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Kepri Zoztafia, Kepala Kankemenag Batam H. Budi Dermawan, perwakilan organisasi keagamaan Permabudhi hingga kepengurusan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kepri dan Batam.
Kehadiran para tokoh ini mempertegas komitmen bersama dalam menjaga stabilitas sosial, toleransi, dan kemajuan pariwisata berbasis budaya di Kepulauan Riau.
(iam /Redaksi KoranBatam)
▴-▴
▴JNE BATAM▴
▴-▴



















































































