- Hanya di Harris Barelang Batam, Staycation Hemat dengan Diskon 25 Persen hingga Akhir Tahun
- Atlet Layar Kepri Dapat Penghargaan Dankodaeral IV usai Sukses Raih Medali di Ajang Kejurnas
- Amsakar Tutup Kejuaraan Voli Piala Walikota 2026, Berikut Deretan Prestasi BP Batam
- Antisipasi Dampak El Nino Demi Jaga Ketahanan Air Baku
- Ratusan Pelukis Ikuti Event Gerakan Nasional Indonesia Raya Menggambar 2026
- Ifanko Dipercaya Jabat Wakil Ketua Peradin Kepri hingga 2029
- 166 SPPG Polri Siap Diresmikan Presiden Prabowo Serentak dari Kabupaten Tuban
- Kodim 0316 Batam Jadi Titik Sentral Kepri
- PLN Batam Perkuat Semangat Kartini lewat Donor Darah dan Edukasi Perempuan
- PLN Batam Umumkan Jadwal dan Lokasi Pemeliharaan Rutin Listrik Selasa 21 April 2026
Disbudpar Batam Apresiasi Pelestarian Kaligrafi China sebagai Simbol Keberagaman Budaya
He Le Perkenalkan Seni Shu Fa

Keterangan Gambar : Para anggota He Le terlihat tengah melukis seni kaligrafi China pada agenda Mega Imlek Festival 2025 di Mega Mall Batam Center, Minggu (19/1/2025). /Disbudpar Batam
KORANBATAM.COM - Seni kaligrafi China atau yang dikenal sebagai Shu Fa kini semakin mendapatkan tempat di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Lembaga seni budaya He Le yang dipimpin oleh Alex Tan sebagai perencana utama, aktif mengajarkan seni menulis tradisional tersebut.
Kegiatan ini tidak hanya melestarikan warisan budaya China, tetapi juga memperkenalkan harmoni dan kebahagiaan yang terkandung dalam setiap goresan kaligrafi. Menurut Alex Tan, Shu Fa memiliki makna mendalam yang melampaui sekadar seni tulis.
“Tulisan dalam Shu Fa mencerminkan harmoni, kebahagiaan dan juga energi positif. Filosofi ini telah diwariskan selama lebih dari 25 ribu tahun, sejak era Dinasti Xia di Tiongkok,” jelasnya saat ditemui di acara Mega Imlek Festival 2025 di Mega Mall Batam Center, Minggu (19/1/2025).
Alex menambahkan bahwa, Shu Fa juga menjadi sarana motivasi yang memperkuat semangat individu.
“Kami ingin anak-anak sekolah, pelajar dan masyarakat umum mengenal nilai luhur yang terkandung dalam seni ini. Ini adalah bentuk kebudayaan yang sangat tinggi dan tenang,” katanya.
Di Batam, kegiatan ini telah menjangkau sekitar 5.000 anggota. Mulai dari pelajar hingga masyarakat umum yang berminat mendalami seni Shu Fa.
“Kami terus berupaya mengembangkan kegiatan ini, terutama dengan menggandeng lebih banyak sekolah untuk menjadi bagian dari program pembelajaran Shu Fa. Namun, jumlah guru yang menguasai seni ini masih terbatas,” ujar dia.
Selain sebagai sarana pembelajaran, Alex menuturkan, Shu Fa memiliki fungsi simbolis, seperti menghadirkan keberuntungan dan harmoni di rumah. Oleh karena itu, seni ini sering kali digunakan dalam dekorasi rumah masyarakat Tionghoa.
Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, Alex berharap seni Shu Fa dapat terus berkembang dan dilestarikan.
“Ini adalah warisan budaya yang berharga. Kami ingin generasi muda mengenalnya, mencintainya, dan terus mewariskannya,” imbuhnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Ardiwinata turut mengapresiasi inisiatif ini.
Menurutnya, pelestarian budaya seperti ini tidak hanya memperkaya keberagaman seni di Batam, tetapi juga mendukung pengenalan budaya kepada generasi muda.
“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga kekayaan budaya. Seni Shu Fa bukan hanya warisan, tetapi juga cara untuk mengajarkan nilai-nilai positif seperti kesabaran, keharmonisan, dan penghargaan terhadap tradisi. Kami mendukung penuh dan berharap kegiatan ini terus berkembang di Batam,” ujarnya.
(iam)
▴-▴


















































































