



- Satu Maling Motor Karyawan Swasta di Sagulung Batam Ditangkap, Eksekutor Masih DPO
- Suami Istri Ditemukan Meninggal dalam Kamar Kos di Melcem Batam, Polisi Selidiki Kasus Ini
- Sales Counter JNE di IKN Diresmikan, Tanam 1.000 Pohon Dukung Kota Hutan Berkelanjutan
- Serap Aspirasi Satukan Sinergi Jaga Kamtibmas, Polsek Sagulung Ajak Ngopi Tokoh Warga Nias
- Warga Sakit Pencernaan di Lambung dan Empedu, Kapolsek Batuampar-Kanit Reskrim hingga Kepala Puskesmas Turun Membesuk
- BP Batam-Mayapada Resmikan Peletakan Batu Pertama RS Internasional Mabih di Sekupang
- Zest Hotel Harbour Bay Tawarkan Paket Spesial
- Ardiwinata Apresiasi Grand Wedding Expo Edisi 4 Kembali Digelar
- Perluasan Wilayah KPBPB Batam, BP Batam Gelar Konsultasi Publik Rancangan Perubahan PP 46 Tahun 2007
- BP Batam Dukung Upaya Perkuat Peran Insinyur Lokal
Lestarikan Budaya Melayu, Batam Kota Gelar Lomba Nasi Besar

Keterangan Gambar : Peserta dari kelurahan Batam Kota mengikuti perlombaan Nasi Besar pada momen HUT ke-78 RI, di Plaza Botania 2, Sabtu (9/9/2023). /Disbudpar Batam
KORANBATAM.COM - Nasi Besar bukan bermakna nasi yang dibuat atau dibentuk dalam ukuran besar. Melainkan, nasi yang dihidangkan dalam acara kebesaran.
Makna yang terkandung dalam penghidangan nasi besar merupakan kehalusan budi pekerti masyarakat Melayu. Karena itu, di momen Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-78 Republik Indonesia, Kecamatan Batam Kota, Batam menggelar berbagai lomba, salah satunya lomba membuat nasi besar.
Kepala Bidang (Kabid) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Muhammad Zen bertindak sebagai juri lomba nasi besar. Ia menyebutkan, kegiatan ini diikuti sebanyak enam kelurahan di Batam Kota.
“Jadi nasi besar dibuat dari rumah, peserta akan menjelaskan nasi besarnya,” katanya, di Plaza Botania 2, Sabtu (9/9/2023).
Menyandang sebutan Nasi Besar, nyatanya hidangan tersebut tidak murni berupa nasi yang ditanak dari beras. Melainkan, berupa pulut atau ketan yang diproses dengan cara ditanak lalu ditambah kunyit sehingga hasilnya menjadi pulut kuning.
Bersama juri lainnya, yakni Dato Haji Wan Gamal yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam Kota, dan Dato Haji Syamsuddin Ja'far menilai kelengkapan nasi besar dari masing-masing peserta.
Dato' Haji Zen, panggilan akrabnya menyebutkan, nasi besar terdiri dari bunga puncak, bunga telur, telur yang diberi warna merah, pulut kuning dan lingkar pulut.
Kemudian ada hiasan pada pinggir pahar dan pahar dulang bekaki. Selain kelengkapan, nasi besar dinilai dari kebersihan, kerapihan serta kreatifitasnya.
“Kalau tak lengkap, berkurang nilainya. Telurnya harus berjumlah ganjil. Dinilai juga kreatifitas membuat bunga telur karena bunga telur ini tidak ada pakemnya jadi bisa berkreasi,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata menjelaskan bahwa, nasi besar merupakan salah satu tradisi Melayu, yang ada di rangkaian setiap acara kebesaran.
Menurutnya, nasi besar kini tak hanya disajikan pada saat acara pernikahan, Khataman Alquran atau Sunatan saja. Nasi besar juga sudah mulai hadir diberbagai acara, seperti peringatan hari kelahiran, hari jadi kota dan sebagainya.
Namun, nasi besar tersebut tetap ada ciri khasnya yakni pulut kuning, bunga telur warna merah dan bunga puncak.
“Untuk acara perayaan hari jadi dan perayaan lainnya bisa namun ciri khasnya jangan sampai hilang,” ucapnya.
Karena itu, pihaknya akan mendorong agar lebih banyak warga Batam yang melestarikan dan menghidangkan nasi besar pada setiap acara.
“Luar biasa saya antusias, Kecamatan Batam Kota mengenalkan nasi besar lewat kegiatan HUT Ke-78 RI. Disbudpar Kota Batam terus mengenalkan tradisi Melayu kepada masyarakat Kota Batam,” pungkasnya. (***)

