Lengkapi Koleksi, Saksi Bisu Perjuangan Melawan Penjajah Ada di Museum Batam Raja Ali Haji

Reporter : Koran Batam 25 Des 2020, 06:42:18 WIB WISATA
Lengkapi Koleksi, Saksi Bisu Perjuangan Melawan Penjajah Ada di Museum Batam Raja Ali Haji

Keterangan Gambar : Kadisbudpar Kota Batam, Ardiwinata (kiri) saat menerima Meriam Zaman Belanda dari Camat Belakang Padang, Yudi Admaji (kanan) untuk melengkapi koleksi Museum Batam Raja Ali Haji. (Foto : istimewa)


KORANBATAM.COM, BATAM - Pemerintah Kota (Pemko) Batam melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam terus melengkapi koleksi Museum Batam Raja Ali Haji. Yang terbaru berupa Meriam Zaman Belanda, yang didatangkan dari Kecamatan Belakang Padang.

Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat Belakang Padang telah menghibahkan meriam tersebut (Meriam Zaman Belanda) karena bukti perjuangan pahlawan dahulu melawan penjajah. Meriam tersebut langsung diletakkan di tata pamer tepatnya di Khazanah Masa Belanda.

“Kita terus berupaya mengisi Museum Batam Raja Ali Haji. Kita bersyukur hari ketujuh, setelah diresmikan, kita mendapat meriam dari Belakang Padang,” ujar Ardi, di Museum Batam Raja Ali Haji, Dataran Engku Putri, Batam Centre, Batam, Kamis (24/12/2020).

Selain menjadi destinasi wisata budaya, lanjut Ardi, Museum Batam Raja Ali sebagai tempat edukasi bagi pelajar di Kota Batam khususnya dan umumnya di Kepulauan Riau (Kepri). Setelah diresmikan bertepatan Hari Jadi Batam (HJB) Ke-191 Tahun pada Jumat (18/12/2020) kemarin, pengunjung terus berdatangan. Mulai remaja, dan orang tua.

Ardi menuturkan, Museum Raja Ali Haji sudah didaftarkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama 475 museum lainnya di Indonesia. Isi dari museum ini, menampilkan sejarah peradaban Batam mulai dari Batam sejak zaman Kerajaan Riau Lingga, Belanda, Temenggung Abdul Jamal, Jepang, masa Kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kepri, Otorita Pertama, era BJ Habibie, Kota Administratif, masuk Sejarah Astaka, Khazanah Melayu, dan infrastruktur atau era Batam sekarang.

Sementara, Camat Belakang Padang, Yudi Admaji mengatakan menyampaikan bahwa, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarah dan pahlawan. Meriam ini adalah saksi bisu perjuangan melawan penjajah.

Menurut sejarah meriam ini di bawa dari Pulau Buluh ke Belakang Padang sebagai Ibukota Kecamatan Batam pada dekade 80-an pada masa Camat Mustafa Saleh dan diletakan di Kantor Camat lama. Pada Tahun 1992, Kantor Camat Belakang Padang dibangun.

“Baru dan pindah ke Sekanak Raya, saat kepemimpinan Camat Bapak Said Hasyim meriam ini dipindahkan ke Pulau Sekanak. Sejak itu saat itu meriam bersejarah ini kokoh mengapit tiang Bendera Merah Putih Kantor Kecamatan Belakang Padang,” kata Mantan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) itu.

Sempena Hari jadi Batam ke 191 tepat tanggal 18 Desember 2020 Museum Batam Raja Ali Haji diresmikan. Diketahuinya museum tersebut, bahwa menggambarkan sejarah perkembangan Kota Batam dari masa ke masa, penghujung akhir tahun 2020 masyarakat Belakang Padang menyerahkan meriam sebagai koleksi dari Museum Batam Raja Ali Haji.

“Ini menjadi catatan sejarah bahwa Belakang Padang mempunyai peran penting dalam sejarah pembangunan kota Batam,” jelasnya.

Sebelum diserahkan, Yudi mengajak masyarakat Belakang Padang mengelar doa selamat memohon kelancaran selama perjalanan menuju Museum Batam Raja Ali Haji.

“Pukul 10.00 dari Pelabuhan Belakang tiba di Pelabuhan Sekupang-Batam pukul 11.00, dan langsung disambut oleh Kepala Disbudpar Kota Batam, Pak Ardiwinata, dan langsung di bawa menuju Museum Batam Raja Ali Haji, di Dataran Engku Putri, Batam Center-Batam,” terangnya.

Selama 40 tahun berada di Belakang Padang, meriam tetap terjaga dengan baik. Adanya Museum membuatnya termotivasi mencari benda sejarah lainnya di Belakang Padang. Sehingga makin banyak masyarakat Kota Batam mengetahui tentang sejarah Belakang Padang.

“Memotivasi kami mengalih dari orang tua kami disini, seperti kantor camat pertama dulu kami akan telusuri,” ucapnya.

Perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Yudistira mengatakan bahwa meriam ini salah satu aset sejarah di Kota Batam dan Indonesia. Diletakkan di museum salah satu langkah menjaga aset tersebut.

“Museum pusat pemajuan kebudayaan dan hadiah tersebar Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD), saya berharap museum mengkaji sejarah komprehensif sehingga bisa diceritakan ke anak cucu,” pintanya.

 

(red)




Komentar Facebook

Komentar dengan account Facebook