Terumbu Karang, Mutiara dalam Samudera yang Mulai Dirusak

Reporter : Koran Batam 19 Nov 2020, 12:50:32 WIB WISATA
Terumbu Karang, Mutiara dalam Samudera yang Mulai Dirusak

Keterangan Gambar : Keindahan ekosistem terumbu karang. (Foto : istimewa)


KORANBATAM.COM - Siapa yang tidak mengenal Indonesia ? Negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia merupakan negara yang mempunyai 17.504 pulau dengan panjang garis pantai 104.000 kilometer (Km). Luas lautan di Indonesia sendiri mencapai 70% dari luas negaranya, inilah alasan Indonesia dijuluki sebagai negara maritim.

Indonesia menyimpan pesona keindahan bawah laut dan perairannya memiliki kekayaan terumbu karang terbaik dunia. Umumnya terumbu karang hidup berdampingan dengan tumbuhan alga, membentuk koloni karang yang terdiri dari ribuan hewan kecil beraneka warna menjadikan terumbu karang sebagai “Mutiara dalam Samudera”.

Terumbu karang (coral reefs) merupakan salah satu ekosistem yang terdiri atas biota laut penghasil kapur khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur. Ekosistem terumbu karang memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi.

Selain berperan melindungi pantai dari erosi dan banjir pantai, terumbu karang juga mempunyai nilai ekologis sebagai habitat, tempat mencari makanan, tempat asuhan dan tumbuh besar, serta tempat pemijahan bagi berbagai biota laut.

Keindahan ekosistem terumbu karang juga dapat dijadikan objek wisata yang menarik sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat yang tinggal disekitarnya. Masyarakat sekitarpun dapat memanfaatkan biota yang hidup di terumbu karang, seperti rumput laut, udang, dan ikan untuk dijadikan sumber makanan yang nantinya dapat dijual sehingga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.

Berbagai jenis ikan, teripang, dan rumput laut yang hidup di terumbu karang juga dapat dimanfaatkan sebagai bibit untuk budidaya. Kepulauan Riau merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terdiri atas 96 % lautan. Wah, ini merupakan kondisi yang sangat mendukung untuk mengembangkan usaha perikanan di wilayah ini.

Namun, banyak masyarakat yang tidak tau cara mengelola sumber daya yang ada dengan baik dan tetap menjaga kelestariannya. Salah satunya dengan penangkapan ikan menggunakan bom atau bahan peledak. Tambelan, Bintan khususnya perairan Pulau Mentebung merupakan salah satu wilayah Kepri yang sering menjadi objek pemboman ikan.

Dr Ir Hendra Gunawan, M.Si., sebagai Professor Riset Bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati pernah berkunjung ke Pulau Mentebung dalam tugas Ekspedisi Keanekaragaman Hayati ke Pulau Pejantan.

Pada tahun 2017, beliau prihatin terhadap kondisi terumbu karang di Kecamatan Tambelan. Puing-puing terumbu karang yang mati membuktikan bahwa pemboman ikan telah terjadi cukup lama. Jika terumbu karang rusak, maka potensi pariwisata di daerah tersebut juga akan hilang.

Tidak hanya pariwisata, potensi perikanan juga akan hilang karena rusaknya habitat berbagai biota laut tersebut. Ini menjadi ancaman yang cukup serius bagi setiap daerah yang memiliki sumber daya terumbu karang. Seharusnya masalah terkait pemboman ikan ini harus lebih mendapatkan perhatian dari pemerintah dan warga sekitar.

Semua orang harus turut berpartisipasi menjaga sumber daya alam dan lingkungan sekitar. Masih ada cara penangkapan ikan yang lebih aman dan tidak merusak lingkungan seperti menggunakan jala ataupun pancingan.

“Kita boleh memanfaatkan kekayaan yang ada di alam, namun kita tidak punya hak untuk merusaknya. Kewajiban kita adalah untuk menjaga alam dan sumber daya yang ada di sekitar kita. Inilah alasan pentingnya mempelajari keanekaragaman hayati yang ada di daerah kita. Dengan mengetahui berbagai keanekaragaman hayati laut kita dapat memanfaatkan sumber daya yang ada, dan juga melindungi ekosistem yang ada. Kita juga dapat mencegah agar sumber daya alam kita tidak hanya sebuah cerita untuk anak cucu kita nanti,” ujarnya.

 

Oleh: Widiya Destini Siringoringo
Mahasiswa aktif semester 5 di Universitas Maritim Raja Ali Haji




Komentar Facebook

Komentar dengan account Facebook